Practice makes perfect

Pernah dengar ada orang Indonesia yang sekolah saja tidak lulus SD, awalnya tidak bisa baca tulis, tidak pernah tinggal di luar negeri, bukan dari keluarga ‘berada’, bahkan pekerjaannya sebagai supir taksi, tapi setiap hari berbicara dalam bahasa inggris?!

Mungkin percaya ga percaya ya, tapi itu memang ada! Siapa dan dimana?

“Long life education”. “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liat lahat”. “Kejarlah ilmu walaupun sampai di negeri Cina (jauh)”. “Menuntut ilmu adalah wajib bagi seorang muslim dan muslimah”. Dan lain sebagainya. Ada banyak kata-kata bijak yang mengingatkan kita bahwa kita harus terus belajar. Dan bahwa belajar tidak berhenti sebatas bangku sekolah / universitas saja. Dan juga bahwa kita harus menanamkan semangat ini ke adik-adik kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar!

Life must go on!

Perjalanan hidup masih panjang. Tantangan di depan masih panjang, yang mengharuskan kita untuk terus belajar. Dengan semangat dan kemauan ini, kelak kita akan mengerjakan sesuatu dengan cerdik dan bukan dengan kerja keras. “Working smart and not working hard”.

Siapakah supir taksi yang dimaksud?

Dia adalah seorang supir taksi yang sudah sukses mengingatkan saya akan masa-masa di pondok pesantren dulu. Masa usia sekolah, dengan segudang aktifitasnya. Kalimat-kalimat motivasi yang bertebaran di lingkungan asrama, serta kegiatan-kegiatan rutin yang bertujuan untuk membekali setiap santri menghadapi hidupnya nanti ketika mulai terjun ke dunia sebenarnya. Salah satunya adalah bekal kemampuan berbahasa asing. Dalam hal ini, di pondok pesantren umunya akan dibekali dua bahasa international yang dengannya akan cukup mampu untuk bisa berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia lainnya, yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. Arabic & English language.

Di asrama, setiap hari secara rutin setiap santri akan dibekali tambahan kosa kata baru (vocabularies / mufrodat). Santri pun dibiasakan untuk mempraktekkan dan berbicara dengan dua bahasa asing tersebut setiap harinya. Agar seragam, diatur bahwa setiap minggu bahasa percakapan sehari-hari akan berganti. Seminggu penuh ini menggunakan bahasa Arab, dan minggu depan menggunakan bahasa Inggris, dan begitu seterusnya bergantian di minggu-minggu berikutnya.

Practice makes perfect. Belajar bahasa memang harus dipraktekkan dengan menggunakannya untuk berbicara sehari-hari. Bukankah memang itu cara paling alamiah dari belajar bahasa?
Yakinlah, secara normal umumnya seorang bayi tidak akan mengerti apapun. Termasuk untuk berkomunikasi dan berbicara dengan bahasa manusia pada umumnya. Tapi lambat laun seiring bertambahnya usia, dia akan mulai berbicara dengan bahasa kita. Dia akan mendengar setiap kata dan kalimat yang dia dengar, dan menirukannya. Sesekali mungkin akan tidak tepat penggunaaannya karena memang dia tidak mengerti arti sebenarnya, bagaimana dan kapan menggunakannya. Tapi, dia akan terus berbicara dan mempraktekkan setiap hari. Dan dia belum duduk di bangku sekolah manapun!

Ya, belajar bahasa dan kemampuan berbahasa yanv benar adalah dengan mempraktekkannya dalam keseharian. Tapi dengan siapa seorang supir taksi ini mempraktekan berbicara bahasa inggris yang sedang dia pelajari?

Seorang anak mempraktekkannya setiap hari di rumah, untuk berbicara bahasa yang sama dengan yang digunakan orang tuanya sehari-hari. Bila kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah lainnya (Sunda misalnya), maka lambat laun bahkan sebelum dia mulai duduk di bangku sekolah, dia akan sudah pandai untuk berbicara bahasa Indonesia dan atau Sunda. Bagaimana bila keseharian orang tuanya berbicara bahasa Arab/Inggris? Ya, dia akan sudah pandai berbicara Arab/Inggris bahkan sebelum dia duduk di bangku sekolah!

Practice makes perfect. Belajar bahasa haruslah disertai dengan mempraktekkannya dalam keseharian. Bila ternyata dia adalah seorang supir taksi yang kesehariannya adalah menyetir taksinya untuk mengantarkan setiap penumpangnya ke tujuan, maka gunakanlah di kegiatan kesehariannya itu dengan berbicara bahasa yang dipelajari dengan para penumpang.

Itulah yang dilakukan oleh seorang supir taksi yang saya maksud. Walaupun dia hanya berpendidikan rendah, tidak mengenyam pendidikan bahasa inggris di bangku sekolah, tapi sekarang dia sudah mulai lancar berbicara dengan bahasa inggris (untuk ukuran orang yang belajar otodidak, bahkan sebelumnya masih buta huruf). Dia setiap hari mempraktekkannya dengan berbicara bahasa inggris dengan para penumpangnya.

Tapi adakah penumpang yang mau?!

Kemauan sang sopir yang menggugah penumpangnya untuk juga mau berbicara bahasa inggris dengan sang supir taksi. Sang supir dengan jelas memasang pemberitahuan untuk berbicara dengan bahasa inggris untuk berkomunikasi dengan sang supir taksi salah satu operator taksi berwarna putih yang beroperasi di Jakarta ini.

Saat ini sang supir taksi menjadi terkenal. Itu berawal dari salah seorang penumpangnya yang mengunggah video rekaman percakapan bahasa inggris dengan sang supir ke salah satu social media yang berlogo huruf ‘P’. Video ini menjadi viral, ditemukan oleh salah satu crew talkshow TV swasta di bilangan Mampang Prapatan, yang kemudian mengundang sang supir taksi ke acara talk show yang host nya seorang mentalist berkepala botak itu di acara talk show siaran langsung kemarin Rabu sore.

Practice makes perfect.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s