Akibat memaksa untuk menolak operasi Caesar

Ketika wanita memasuki usia kehamilan cukup bulan, seperti biasa ibu hamil mulai harap-harap cemas akan proses persalinan yang akan segera dijalani. Level harap-harap cemas ini menjadi lebih condong ke rasa cemas bila ini adalah kehamilan pertamanya. Tapi bahkan bagi yang sudah pernah melahirkan sekalipun, rasa cemas akan tetap ada karena tidak ada proses kehamilan dan persalinan yang identik.

Persalinan yang umum terjadi adalah di usia kehamilan 38-42 minggu. Persalinan sebelum umur kehamilan 38 minggu biasa disebut kelahiran prematur, dengan berbagai resikonya. Yang paling aman (walaupun tidak semua) dan paling banyak terjadi adalah persalinan di umur kehamilan 40 minggu. Dan sebaliknya, ketika sudah lewat 40 minggu, rasa cemas terus meningkat beriring dengan berbagai resiko yang mungkin terjadi pada kehamilan pottern (kelebihan umur kandungan).

Rasa cemas yang meningkat ketika sudah lewat umur kehamilan 40 minggu bukan tanpa sebab. Penjelasan mengenai resiko pottern, ditambah dengan pertanyaan sanak-saudara dan tetangga tentang kapan akan melahirkan membuat ibu hamil galau. Apalagi bila dokter kandungan sudah menjelaskan indikasi penyebab pottern dan resikonya. Dalam kasus saya, janin terlilit tali pusat di sekitar leher dan kemungkinan kesulitan untuk turun ke panggul atau jalan lahirnya karena panjang tali pusatnya tidak cukup untuk mengantarkan keluar sebelum giliran plasenta (ari-ari).

Dengan kondisi kasus di atas, yang bahkan sebelum usia kehamilan cukup umur pun sudah diketahui via proses USG, dokter kandungan biasa sudah menjelaskan resiko yang mungkin ada pada proses persalinan pada saatnya nanti. Dan bilamana sang dokter kandungan tidak pro persalinan normal, dengan berbagai alasan di belakangnya (medis maupun subjektif), maka sejak jauh-jauh hari dokter tersebut akan memotivasi proses persalinan dengan operasi Caesar. Bahkan dalam kasus ektrim, dokter akan vonis hanya operasi Caesar sebagai pilihannya.

Bagaimana bila Ibu hamil dan atau keluarga bersikeras untuk melahirkan dengan proses normal per-vagina? Apakah tidak ada pilihan lain? Dalam kasus saya, kami tegas menolak operasi Caesar. Mengapa demikian?

Sejatinya, bidan ataupun dokter hanyalah penolong proses persalinan. Dokter/bidan belum ada di masanya Adam dan Hawa, yang bahkan sejak saat itu sunnatullah proses persalinan adalah normal per-vagina. Karenanya sudah sewajarnya lah melahirkan itu normalnya per-vagina, walaupun dalam beberapa kasus persalinan dapat membahayakan nyawa Ibu dan atau janin yang akan dilahirkan. Di sinilah dokter/bidan berfungsi.

Semua pertolongan ataupun tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien harus selalu atas persetujuan pasien dan atau penanggung jawabnya. Demikian pula hal nya dengan proses persalinan. Semua pertolongan ataupun tindakan medis seperti perangsang kontraksi (induksi), vacuum, ataupun operasi caesar hanya dapat dilakukan setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan ibu yang akan melahirkan dan penanggung jawabnya (mis. Suami).

Hal ini berarti bahwa ibu yang akan melahirkan dan atau suaminya berhak menolak untuk dilakukan operasi caesar bilamana mereka mantap untuk melakukan proses persalinan normal per-vagina. Saya dan suami menetapkan hati untuk menjalani proses persalinan normal ini dan menggunakan hak untuk menolak saran dokter agar dilakukan operasi caesar, dengan tetap berusaha memahami indikasi resiko yang kemungkinan akan dihadapi berdasarkan penjelasan dokter kandungan jauh-jauh hari sebelumnya.

Memang diakui bahwa cukup sering kita mendengar tentang kasus kematian bayi yang sedang dilahirkan, di antaranya dengan penjelasan awam mengenai penyebab kematiannya adalah terlilit tali pusar. Deteksi dini adanya lilitan tali pusar ini, yang diketahui melalui pemeriksaan USG, memang sangat membantu dokter dan ibu hamil agar lebih siap saat proses persalinan nanti. Tapi bukankah dokter/bidan seharusnya terlatih untuk menghadapi dan membantu proses persalinan, bahkan yang ada lilitan tali pusarnya sekalipun?

Proses melahirkan adalah proses yang kompleks. Proses melahirkan tanpa adanya indikasi resiko tambahan sekalipun sudah merupakan perjuangan hidup dan mati seorang ibu hamil dan calon bayinya, apalagi bila ditambah adanya resiko akibat lilitan tali pusar yang sudah terdeteksi sebelumnya. Salut untuk para ibu yang sudah melahirkan bayinya dengan selamat walaupun tanpa tersentuh USG sebelumnya!

Akhirnya rasa mulas yang dinantikan itu pun tiba. Rasa senang bercampur khawatir pun mulai dirasakan, bersamaan dengan sakitnya rasa mulas itu. Tapi apa daya, entah karena lilitan tali pusat itukah yang menyebabkan bayi kami belum turun juga ke jalan lahir. Pembukaan leher rahim yang menandakan akan lahirnya jabang bayi tidak kunjung tiba. Seminggu pun berlalu, lewat dari HPL, perkiraan umur kehamilan 40 minggu. Dengan berbagai pertimbangan, dan tetap berusaha menetapkan hati bahkan berusaha ikhlas akan apapun kondisi bayi saat dilahirkan nanti, kami tetap memutuskan untuk menunggu rasa mulas alami itu datang dan proses persalinan normal bisa dilakukan.

Sepuluh hari berlalu sejak adanya rasa mulas itu. Mungkin itu yang dinamakan rasa mulas palsu. Kini sudah masuk pottern, atau masa kehamilan lewat bulan. Dokter kandungan yang biasa kami lakukan pemeriksaan kehamilan sudah sejak jauh hari mengingatkan resiko pottern, baik berupa air ketuban yang bisa kering, berubah warna dan bau, bahkan resiko bayi keracunan air ketuban. Tapi kami tetap menginginkan proses persalinan normal.

Rasa mulas yang terasa lebih menyakitkan pun mulai terasa. Rasa mulas yang terus menerus dirasakan sepanjang hari. Rasa mulas yang datang dan pergi. Saya berusaha untuk menyibukkan diri untuk melupakan rasa sakit dan mulas itu. Tapi sakit dan mulasnya sudah tidak bisa dihindari hingga malam hari berikutnya. Suami pun yang hari itu pergi bekerja saya beritahu tentang rasa mulas ini dan kemungkinan proses persalinan yang sudah dekat. Akhirnya suami memutuskan untuk mengambil cuti, dengan pertimbangan saya yang ingin sekali ditemani suami melewati masa-masa ini. Namun, sampai malam kedua berikutnya, dengan rasa mulas yang dirasakan sepanjang hari, persalinan tidak kunjung tiba.

Di malam hari kedua dimana sehari penuh rasa mulas dan sakit itu dirasakan, kami pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersalin untuk memeriksakan kondisi bayi dan air ketuban. Hal ini karena flex sudah mulai terlihat, dan kami khawatir bila air ketuban mengering tanpa sepengetahuan kami setelah melewati rasa mulas dua hari ini.

Ternyata setelah dua hari rasa mulas dirasakan, dan ada tanda flex, itu hanya baru pembukaan satu. Air ketuban masih cukup. Namun kepala bayi masih terlalu tinggi untuk siap dilahirkan secara normal. Akan tetapi bidan dan dokter menambahkan bahwa dengan kondisi mulas yang dirasakan selama dua hari ini, itu baru sepertiga rasa sakit yang seharusnya dirasakan bila akan melakukan persalinan secara normal per vagina. Akan tetapi, dengan kondisi kepala bayi yang masih jauh dari jalan lahir, adanya lilitan tali pusat dan detak jantung bayi yang dinilai cukup lemah, dokter menilai bahwa proses persalinan secara normal akan beresiko bagi bayi yang akan dilahirkan. Dokter pun merekomendasikan untuk dilakukan operasi caesar malam itu juga. Namun, suami tetap menolak!

Saya pun diajak pulang ke rumah, dan dimotivasi untuk mengikhlaskan apapun yang akan terjadi. Umur setiap makhluk hidup Hanya Sang Kholik Yang Menentukan. Bila takdir sang bayi berumur pendek, dilahirkan dengan proses operasi caesar pun tidak akan pernah bisa memperpanjang umur bayi. Dan sebaliknya, dengan kondisi dan pertimbangan medis apapun berkaitan dengan kondisi saat itu, bila bayi ditakdirkan berumur lebih panjang, maka dilahirkan secara normal pun akan selamat.

Ternyata menumbuhkan rasa ikhlas itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi mengingat kelahiran bayi ini sudah ditunggu sejak sembilan bulan lalu. Berat sekali rasanya merelakan bayi kami itu. Dan saya pun hanya bisa pasrah dan berupaya ikhlas di perjalanan pulang ke rumah malam itu. Hanya doa dan linangan air mata yang cukup menenangkan saya malam itu saat melakukan shalat isya sebelum beranjak tidur.

Dan menjelang tengah malam, rasa mulas dan sakit yang cukup hebat mulai terus menerus terasa saat itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa saya pikirkan selain menahan hebatnya rasa sakit itu, dan saya hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi saat itu.

Ternyata tanpa sepengetahuan saya, suami terus memonitor frekuensi rasa mulas dan kejang saya. Menurutnya, tengah malam itu masih sekitar setiap setengah jam. Dan bahkan suami sempat beristirahat tidur saat saya berjuang menahan rasa mulas dan sakit sepanjang malam itu.

Lewat jam tiga dini hari, suami mulai terjaga dan tidak tidur lagi. Menurut suami, saat itu rasa mulas dan kejang hebat saya terjadi masih sekitar setiap lebih dari 10 menit sekali. Sampai selesai shalat shubuh, dikatakan bahwa mulas dan kejang terjadi sudah setiap sekitar 7 menit. Saya yang sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi hanya bisa pasrah, karena suami tidak juga mengajak ke rumah sakit.

Pagi itu, suami masih menemani anak pertama saya bersiap-siap untuk pergi sekolah, sampai dia berangkat sekolah diantar asisten rumah tangga kami. Saat itu sudah jam 7 pagi sepeninggal anak sulung kami berangkat sekolah. Menurut suami, saat itu sebenarnya rasa mulas dan kejang saya sudah terjadi sekitar setiap 5 menit. Dan saya pun diperintahkan untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.

Kami pun tiba di rumah sakit terdekat sekitar satu jam kemudiam, dan langsung masuk ruang bersalin. Namun apa daya, entah memang karena lilitan tali pusat itu, kepala bayi masih terlalu tinggi untuk dilahirkan secara normal. Ditambah lagi dengan detak jantung bayi yang menurut dokter terlalu lemah. Dan kami pun lagi-lagi diminta untuk dilakukan operasi caesar untuk melahirkan bayi dengan selamat. Sungguh berat dan shock rasanya, apalagi sebetulnya ada perkembangan yang lebih baik saat itu bahwa sekarang mulut rahim sudah terbuka sampai tingkat pembukaan empat!

Tapi suami sudah berketetapan hati untuk tetap dilakukan proses persalinan normal. Adapun mengenai detak jantung bayi yang dianggap cukup lemah, suami meminta dokter untuk memberi saya terapi oksigenisasi. Hal ini belajar dari malam sebelumnya di rumah sakit bersalin yang berbeda yang juga melakukan tetapi oksigenisasi untuk meningkatkan detak jantung bayi. Suami pun meminta dokter untuk menolong proses persalinan secara normal per vagina. Adapun resiko apapun yang akan terjadi pada bayi adalah suami yang menaggung dan tidak akan menggugat siapa pun.

Oleh karena keputusan ini, sebelum proses persalinan benar-benar terjadi, suami diharuskan mengisi surat pernyataan untuk menolak tindakan medis operasi caesar untuk melahirkan bayi. Tambahan surat lainnya adalah izin untuk dilakukan tindakan medis vacuum dan induksi dalam pertolongan persalinan.

Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang kehamilan yang ditunggu dan diharapkan sejak dua tahun yang lalu, juga setelah lebih dari 9 bulan kehamilan pottern, proses persalinan beresiko tinggi yang menurut dua dokter berbeda dari dua rumah sakit berbeda dengan rekomendasi yang sama yaitu operasi caesar pun terjadi.

Anak kami pun dilahirkan dengan sehat sempurna dengan proses persalinan normal per vagina dengan bantuan induksi (infus) dan vacuum (forcep). Puteri kedua kami dilahirkan sehat sempurna dengan panjang 51cm dan berat 3050gram.

CHA

Alhamdulillah. Allah Yang Maha Kuasa Sang Maha Pencipta.
Subhanallah. Wallahu A’lam bi Showab.

Dhede 081386049966
http://www.facebook.com/dede.sitijuariah
availbunda.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s