Ketika hal yang ‘dirasa’ tidak penting menjadi penting sekali

Menjelang kelahiran anak kedua, tentunya kami sudah jauh-jauh hari mulai menyiapkan ritual penyambutannya. Sebagaimana yang juga sudah disebutkan di artikel sebelumnya, salah satu persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan tempat tidur bayi.

Semua orang tentu ingin menyiapkan yang terbaik untuk bayinya, dan tidak terkecuali kami. Di saat yang sama, tentu adalah hal yang baik untuk tidak memubazirkan sesuatu. Proses kelahiran bayi adalah salah satu proses yang menakjubkan, yang sangat spesial. Sang bayi pun adalah satu sosok yang sangat spesial yang sudah ditunggu-tunggu sekian lama. Sehingga adalah manusiawi bila saja orang tua sang bayi juga akan menyiapkan semua hal yang spesial untuk bayinya.

Bagi yang sudah pernah melahirkan dan memiliki bayi, ataupun siapa yang yang pernah menyaksikan anggota keluarganya memiliki bayi, tentu paham bahwa umumnya perlengkapan bayi adalah salah satu hal yang usia pakainya termasuk pendek. Baju dan perlengkapan yang rasanya belum dipakai lama, sudah tidak digunakan lagi karena sang bayi sudah serasa begitu cepat pertumbuhannya sehingga perlengkapan yang sudah dibeli sudah tidak cocok lagi.

Demikian halnya dengan box bayi atau tempat tidur bayi. Sepertinya terasa begitu cepat waktu berlalu dan bayi sudah tidak cocok lagi untuk ditempatkan di dalamnya. Akhirnya box bayi sudah tidak terpakai lagi.

Keadaan seperti di atas adalah salah satu peluang yang diambil oleh beberapa pengusaha belakangan ini. Mereka menyadari bahwa banyak orang tua yang merasa bahwa membeli perlengkapan bayi seperti box bayi terkadang menjadi satu hal yang perlu dipertimbangkan masak-masak. Hal ini karena usia pakainya yang pendek. Pengusaha yang paham akan situasi ini akhirnya membuka toko penyewaan perlengkapan bayi. Sehingga, para orang tua tidak perlu membeli perlengkapan-perlengkapan yang biasa diperlukan, tapi cukup menyewanya saja.

Bagaimana dengan saya ya?

Kebetulan, sepupu beberapa tahun ke belakang baru saja menyambut anak pertamanya. Dengan suka citanya, beliau pun menyiapkan segala perlengkapan terbaik untuk bayinya, termasuk box bayi ini. Dan sebagaimana yang sudah umum berlaku, pada akhirnya box bayi ini tidak terpakai lagi karena anak pertamanya sudah beranjak besar dan tidak cocok lagi di tempatkan di box bayinya.

Setelah dipertimbangkan dan didiskusikan dengan sepupu, akhirnya kami putuskan untuk meminjam box bayi tersebut untuk persiapan kelahiran anak ke-2 kami. Apalagi, box bayi tersebut cukup bagus kualitasnya sehingga tidak ada yang berkurang secara fungsinya.

Beberapa minggu ke belakang, box bayi sudah diantarkan sepupu ke rumah untuk dipinjamkan kepada kami. Box tersebut terlipat rapi sejak terakhir digunakan oleh si empunya. Bahkan mungkin karena terlalu lama disimpan dan tidak dikontrol, bungkus box bayi sudah ada yang digigiti tikus rumaha dan robek di beberapa bagian. Untungnya tidak ada bagian box bayi yang rusak, hanya bungkusnya saja. Lalu apa saja perlengkapannya, apakah ada buku manual perakitannya?

Mungkin ini yang membedakan antara membeli baru perlengkapan bayi, menyewa perlengkapan bayi di toko penyewaan perlengkapan bayi, dan meminjam perlengkapan bayi ke orang tua yang pernah memiliki bayi dan membeli perlengkapan bayi yang kemudian berbaik hati untuk meminjamkannya.

Membeli perlengkapan baru tentu tidak sulit untuk mulai menggunakannya. Karena biasanya penjual akan menerangkan bagaimana cara perakitan dan penggunaannya. Menyewa perlengkapan bayi rasanya juga kurang lebih akan sama dengan membeli perlengkapan baru. Walaupun kami belum pernah menyewa, rasanya tempat-tempat penyewaan akan menyiapkan orang yang akan membantu untuk menerangkan bagaimana cara penggunaan perlengkapan yang disewakannya.

Meminjam akan berbeda ceritanya, terutama bila pemilik perlengkapan tidak menyimpan baik-baik semua bagian dari perlengkapan bayi termasuk buku manual pemakaiannya. Dan bisa ditebak, umumnya buku manual adalah sesuatu yang dikesampingkan dan dianggap tidak penting ketika perlengkapan tersebut sudah selesai dirakit dan mulai digunakan. Buku manual tidak dianggap penting lagi, sampai benar-benar menjadi sesuatu yang penting.

Setelah box bayi sampai di rumah, Ayah susah payah berusaha merakit box tersebut. Hal ini karena tidak ada buku manual yang disertakan. Berbagai cara dicoba, tapi box tersebut tidak kunjung selesai dirakit. Sekilas, box tersebut sudah didesain sedemikian rupa sehingga akan mudah sekali untuk dirakit dan dipakai. Pun demikian, box tersebut sudah didesain untuk juga mudah saat dibongkar untuk disimpan kembali. Tapi tidak demikian dengan prakteknya, terutama bila tidak ada buku manual yang disertakan dan tidak ada yang menerangkan bagaimana cara merakitnya.

Akhirnya, jurus pamungkas orang-orang yang melek internet saat ini lakukan digunakan. Yaitu dengan bertanya ke mbah Google. Box bayi pun selesai dirakit dengan mudahnya (sebagaimana maksud orang yang mendesainnya).

Memang, kadang manusia tidak menyadari apa yang sudah dimilikinya sebagai sesuatu yang penting, sampai akhirnya sesuatu tersebut memang benar-benar diperlukan (penting).

Ada yang punya pengalaman yang sama?

Berikut saya share video youtube yang membantu kami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s